Postingan

Pengalihan Kesedihan

Gambar
Ada sebuah cuplikan dari Filosofi Teras yang bagus banget buatku. Ketika Seneca diasingkan, dia ngasih surat buat ibunya. Di dalam surat itu ada kalimat yang bikin aku takjub banget, “Lebih baik menaklukan kesedihan daripada menipu diri sendiri.”  Wow. Mana lagi ngalamin banget. Kadang untuk mengalihkan kesedihan kita melakukan banyak aktivitas yang sebenarnya hanya menipu diri sendiri aja, tidak hilang, malah jadi terbayang terus menerus. Memang sih, sekat antara menipu diri sendiri dan menaklukan kesedihan itu bisa sangat tipis, bahkan aku sendiri masih meraba-raba di mana letak bedanya. Jadi, aku coba jalanin dulu yang aku bisa, terlepas itu hanyalah pengalihan semata.  Sampai ke satu titik, aku merasa bahwa kesedihan yang terus berlanjut hanya akan membuatku lelah. Nah, mulai nyambung sama quote tiktok tuh yang pada bilang, "Jalanin aja sampe kamu capek sendiri. Nanti juga berlalu." And thats true. Terkadang memang ada beberapa hal yang harus kita rasakan sampai tuntas, ...

Persepsi

Gambar
Sejujurnya aku tidak ingin menulis sesuatu yang temanya galau-galau lagi. Toh, kegalauan ini hanya semakin menjebakku dalam pikiran-pikiran yang menyakitkan. Jadi, mari kita cari topik lain yang tidak membuatmu berkutat di masa lalu. Let me think.... Tiba-tiba aku teringat dengan ucapanku di halaman Candi Prambanan. Sebuah kalimat yang sepertinya terdengar sombong dan sangat menantang, kurang lebih begini, "Aku yaa.. kalau kepepet banget, mentok mampus keadaannya, dan bikin aku ada di situasi disukai atau dilamar laki-laki yang pernah berkeluarga, kayaknya mikir-mikir banget sih. Meskipun itu udah di ujung banget ya!! Soalnya aku mikirnya gini, selama ini aku usaha untuk tetap menjadi wanita yang utuh, gak neko-neko, suka sama laki-laki juga jarang banget, terus tiba-tiba ada orang dateng dengan segudang masa lalunya, entah udah selesai, entah otw selesai. Kayak... kamu udah di fase pernah bersama orang lain dan aku pure single, gak adil banget gak sih?" Ucapku dengan penuh k...

The Biggest "what if"

Gambar
Pada awalnya, judul ini ingin aku gunakan untuk menulis banyak narasi positif tentang kehidupan romansaku bersama seseorang yang namanya kusematkan dalam doa beberapa bulan belakangan. Harapannya sih agar bisa jadi manifestasi positif. Tapi aneh juga karena manifestasi ini berisi "bagaimana jika" yang seharusnya terjadi di masa lalu. Agaknya kontradiktif sekali yaa dengan teori yang bertebaran di media sosial. Sayangnya, semuanya hanyalah rencanaku semata. Aku kira jika terus-menerus memikirkan "bagaimana jika" untuk urusan-urusan di masa lalu akan membawa sebuah kelegaan tersendiri. Seperti memberi makan hati dengan fantasi. Ternyata sikap ini malah menuntunku ke diagnosa mixed anxiety and depressive disorder (kata halodoc dan dokter jaga UGD di JIH). Tapi, setelah didiagnosa hingga 2x bolak-balik UGD, kumat di Pakuwon Mall, dan sampai dua minggu selalu sesak ketika di keramaian, tidak membuatku taubat untuk menghilangkan topik overthinking terkait "bagaimana ...

Perayaan Melepaskan

Gambar
 Untuk kamu yang pernah singgah sejenak, Hai... apa kabar? Lama yaa tidak berjumpa. Sebenarnya aku sedikit bingung harus mulai dari mana, tapi akan aku coba uraikan semuanya pelan-pelan. Semoga setelah ini, aku bisa sedikit melangkah maju dan melanjutkan hidup. Banyak hal yang mau aku sampaikan lewat media ini, entah kapan akan sampai atau malah akan berakhir di  trash bin  karena aku terlalu malu. Kalau diingat-ingat, pertama kali kamu hadir di depanku saat rapat besar, kamu muncul dengan map berisi acara untuk tahun itu, aku terkesima sesaat, "Siapa nih?" Saat itu sebenarnya aku sedang fokus kuliah dan menghindari adanya drama romansa di kepala. Tapi kamu hadir dan sedikit mengetuk pintu yang aku tutup. Di hari pertama itu, kamu tiba-tiba mengajakku bicara, padahal kebanyakan orang asing sungkan dengan raut wajahku yang lumayan lugas. Pertemuan-pertemuan selanjutnya kamu termasuk salah satu orang yang lumayan sering mengajakku ngobrol dan bercanda. Celetukan-celetukan k...

Salahmu Sendiri

Rasanya seperti sudah terlalu lama berlari. Entah ini bisa disebut dengan berlari atau hanya jalan santai. But I tried. I tried a lot of things. But may be not that many juga sih. Banyak hal yang ujung-ujungnya diisi dengan sebuah ucapan, "salahmu sendiri sih". Mungkin aku tidak berlari sekuat yang lain, mungkin aku tidak berjuang sekeras yang lain, dan mungkin memang usahaku tidak pernah sebanding dengan yang lain. Jadi mengapa harus terus dibandingkan? Justru itu. Justru karena aku paham dengan konsep bahwa kesuksesan & kebahagiaan setiap manusia pasti selalu diliputi pengorbanan yang besar, membuatku terus menerus menekan diri sendiri. Merasa semua salah letaknya di diri ini. Tidak ada yang bisa dimaki kecuali diri sendiri. Dan perlahan semuanya terasa sesak. Untungnya masih ada beberapa tangan yang bisa diraih meski hanya sebentar. Lalu aku bisa kembali tersenyum barang sejenak dan melanjutkan hidup seperti biasanya. Dari semua perjalanan yang kualami, insecure menjad...

Mari Dilanjutkan

Long time no see~  Tulisan di blog ini memang sempat terhenti di hari ke dua ratus sekian. Kebiasaan!! Tidak pernah menyelesaikan hal yang sudah dimulai. Bisa dibilang memang aku tipikal yang tidak konsisten sih. Yasudah. Semoga lekas membaik haha. Anyway, entah bagaimana harus mengawali tulisan kali ini. Sedikit canggung dan kaku. Ternyata kebiasaan membaca sangat mempengaruhi cara bercerita ya :((. Akibat sudah jarang membaca, aku jadi agak kikuk ketika berusaha mengungkapkan perasaan lewat tulisan.  Mari kita mulai dengan alasan "Kenapa nulis lagi?" dengan konteks menulis di blog sepi pengunjung ini. Kenapa ya? Sepertinya karena mimpi beberapa waktu lalu dan sedikit gangguan yang tiba-tiba masuk ke alam bawah sadar (semoga paham). Mimpi yang tiba-tiba membuatku terhenyak itu akhirnya mengantar jemari ini untuk menggali masa lalu dengan lebih dalam. Membaca setiap huruf cerita masa lalu yang banyak membuatku geli sendiri. Percayalah aku pernah sangat-sangat berlebihan pada ...

Hari Kedua Ratus Dua Puluh Delapan: Hi!

Jika mungkin memang tidak ada jalan dari Tuhan untuk kita bertemu, setidaknya aku sudah sempat menyampaikan hal-hal yang ingin kuucapkan kepada dia. Meski hanya melalui tulisan yang tidak jelas juga siapa saja yang membaca. Hi! Lama gak ketemu ya. Gak lama banget sih, taun lalu sempet sekilas bersapa di event dekat rumah. Masih suka bercanda kayak dulu gak? Atau malah udah ada target lain buat diisengin? Jangan sering-sering, kasian kalo targetnya jatuh suka. Kenapa waktu itu tiba-tiba ilang? Aku ada salah kah? Maaf ya kalo pas itu ada salah kata atau jawaban yang tidak menyenangkan. Tapi kalo bukan karena itu... ya maaf aja. Mungkin ada salah yang lain hehe. Apa kabar? Kelihatannya baik sih, bahkan sangat baik. Seneng banget liat kamu kalo update story. Yah lumayan lah bisa tau kamu lagi di mana dan lagi ngapain. Sounds like stalker ya? hahaha. Besok-besok gak aku ulangin deh. Gimana ibu kota? Better than Jogja? Pengen deh denger cerita kamu selama di sana ngapain aja. Adaptasinya gim...

Hari Kedua Ratus Dua Puluh Tujuh: Aku Iri

Apakah menjadi seseorang itu selalu berakhir dengan memiliki pekerjaan tetap? Memiliki keluarga lengkap? Berkecukupan? Memiliki prestasi gemilang? Apakah semua pengakuan manusia di dunia itu adalah sebuah standar dalam menjalani kehidupan? Harta, tahta, pengakuan manusia. Definisi sedang diuji habis-habisan oleh Tuhan. Isi kepalaku sebenarnya sederhana, hanya berputar di hal-hal duniawi. Lalu berakhir dengan menyalahkan diri sendiri sebagai penenang sesaat. Karena pada dasarnya memang tidak ada yang bisa disalahkan juga. Pelampiasan dahaga dari emosi yang tak kunjung usai. Anggap saja begitu. Sebenarnya membuka akun utama di IG itu seperti bunuh diri secara perlahan. Bagaimana tidak? Semua yang terpampang adalah pencapaian manusia di dunia. Keadaan terbaik mereka selama menjalani hidup. Tanpa tahu bagaimana sulitnya mereka mencapai kebahagiaan tersebut. Lagi-lagi aku tidak bisa memvalidasi kekesalanku karena selalu terpaku dengan, "Setiap manusia memiliki medan perangnya sendiri....

Hari Kedua Ratus Dua Puluh Enam: Esensi Menerima

Bersyukurlah kalian yang bisa berangkat pagi meski harus bermacet-macetan di jalan atau berdesakan di stasiun KRL. Karena di sisi lain ada manusia yang sangat berharap bisa bangun pagi dan ikut merasakan hiruk pikuk aktivitas para pekerja. Bersyukurlah kalian yang masih bisa merasakan lelahnya berkerja, dimarahi atasan, dan segala kekesalannya demi mendapatkan upah di akhir bulan. Karena di luar sana masih banyak manusia yang sangat ingin pamer status whatsapp betapa sibuknya hari ini, berapa banyak lembar yang sudah dikerjakan, dan menikmati momen dimarahi atasan. Bersyukurlah kalian yang masih diberi tenaga dan napas untuk mengutarakan emosi, sedih, marah, bahagia, takut, dan cemas. Karena di luar sana masih ada manusia yang bingung mencari alasan untuk bisa merasakan emosi-emosi tersebut. Sebulan, dua bulan, mungkin tidak terasa. Tapi sudah hampir setahun dan aku mulai merasakan kebingungan yang tak kunjung usai. Ada saja yang menjadi topik kebingunganku. Sayang, semuanya terasa ti...

Hari Kedua Ratus Dua Puluh: Cinta?

 Sudah berapa ratus purnama aku tidak berkeluh kesah soal cinta di sini? Hahaha. Mengingat umur yang sudah tidak lagi muda membuatku canggung jika bicara soal cinta. Yah.. I am at late 20s and if I still speak about shallow love, people will laugh at me. It is not the right time aja rasanya. But around a month or less, may be, suddenly I think about him again. Who is him? He is not somebody that I have ever talked about him earlier. He definitely does not ever appear in my blog but I always talk about him in twitter. So some of you (if you still read my story here), may be will know who he is. Someone who I called as "Anak Pak Rete". Mungkin karena dia laki-laki terakhir yang berhasil menyentuh sisi lain hatiku, ketika aku sudah berusaha mati-matian untuk mengabaikan soal perasaan ke lawan jenis. Tapi perilakunya membuat pertahananku seketika runtuh dan hancur. Di saat yang sama, dia tiba-tiba menjauh. Entah karena aku yang sempat salah merespon chatnya, atau memang dia sadar...

Hari Kedua Ratus Sembilan Belas: Sisa Tiga

Empat Agustus 2023, tak usah ditanya bagaimana kabarku, yang jelas buruk. Bukan tanpa alasan kekecewaan besar ini hadir, bisa-bisanya yang aku perjuangkan sekian lama malah berakhir dengan sebuah kalimat, "Terindikasi Curang." Bagaimana bisa? Mengingat ini adalah akal-akalan pejabat negara, aku tidak bisa berbuat banyak. Dimintai kejelasan pun pihak informasi hanya bisa menjawab ala kadarnya. Fuck .  Selamat datang kembali di kegagalan lainnya. Rasanya lelah, frustasi, dan depresi. Harus kemana dan bagaimana lagi? Harus menangis seperti apa lagi? Sepanjang tahun ini aku sudah menangis, apa masih kurang? Berbagai hal yang mengusik terus berkelebat di kepalaku dan rasanya mau pecah. Karir, orangtua, cinta, umur, dan segala hal duniawi tidak bisa kugapai. Buntu. Aku benci hidupku. Satu. Tiba-tiba yang kukesali kemarin mengirimkan potongan ucapan Jaemin sembari berkata, "Semangat. Nanti aku bantu share loker lagi. Masih ada yang lain." Kali ini rasanya berbeda, bukan ra...

Hari Kedua Ratus Enam: Help but Unhelp

Masih dengan isi hati yang sama. Buruk. Rasanya semua yang berniat membantu terasa buruk di mataku. Terasa mencerca padahal tidak. Jangan sampai aku jadi orang jahat karena perbuatan baik kalian. Aku sedang berusaha keras menghindarinya. Kalian baik. Aku paham. Tapi mohon maaf, tidak untuk hari ini. Aku tidak ingin dibela atau dibantu apapun, diamkan saja celotehanku karena memang isi hati ini saja yang sedang tidak baik. Maaf. Selama ini jika kalian sedang bermasalah kan aku juga diam. Karena aku sendiri tidak ingin diganggu, kecuali yang bersangkutan bertanya dan meminta saran. Baru kemudian aku akan berusaha memberi sedikit perspektif. Tapi kali ini aku tidak meminta dan kalian malah memberi. Semua menjadi tidak bisa kumengerti. Malah kupikir kalian begitu karena posisinya sudah nyaman. Sudah mulai menemukan jalan yang sesuai keinginan. Mudah saja kalian ucapkan, tapi tidak mudah kuterima. Sekali lagi maaf. Bantuan kalian sangat tidak membantu. It is helpful but unhelpful for me. So...

Hari Kedua Ratus Lima: Berbeda Posisi

Hi! Apa kabar? Sudah dua ratus lima hari di dua ribu dua puluh tiga dan aku masih bernasip sama dengan hari pertama di tahun ini. Air mata rasanya sudah habis, bahkan perasaan ingin menangis ini tidak bisa tertuang dengan sempurna. Seperti ada yang menahan, aku tidak bisa menangis lagi. Jadi, apa yang mau diceritakan hari ini? Satu per satu pergi. Sejatinya manusia terlahir memang untuk menjadi sendiri, toh di alam kubur juga nanti akan sendirian. Tapi ternyata menjadi sendiri di dunia itu sulit. Tidak secara harfiah sendiri sih, masih ada keluarga dan teman yang bisa dikontak. Hanya saja beberapa hari ini semua yang kucoba dikomunikasikan berhenti begitu saja. Rasa akrab yang dulu selalu ada perlahan hilang. Kita sudah berbeda frekuensi. Sad but truth. Berkali-kali aku ada di posisi berbeda pemahaman dengan si empunya topik pembicaraan. Ketika yang lain merasakan hal yang sama, aku tidak. Aku belum bisa mengiyakan apa yang menjadi topik itu karena aku belum pernah berada di posisi yan...

Hari Keempat Puluh: Sembilan Februari

Gambar
Lama tak bersua. Tulisan kali ini akan menjadi pesan yang spesial untuk manusia paling lucu versiku. Hari ini adalah hari bahagianya. Dua puluh delapan kata dia. Meskipun wajah dan kelakuannya masih seperti bocah. Jahil haha. Teruntuk Si Paling Lucu versiku... Selamat ulang tahun. Selamat sudah bertahan selama dua puluh delapan tahun di dunia ini. Sedih, bahagia, susah, senang tentu sudah menjadi makananmu sehari-hari. Terima kasih karena sudah memilih untuk menjadi bahagia dan senang. Kemudian menyebarkan kebahagiaan dan kesenangan itu kepada jutaan manusia lain di muka bumi ini.  Kamu hebat. Sangat sangat hebat. Dua puluh delapan tahun bukanlah waktu yang sebentar. meski tingkahmu terkadang masih seperti bocah, tapi aku tahu bahwa kamu sudah sangat dewasa. Buktinya kamu bisa terus menunjukkan sisi bahagiamu kepadaku. Membuatku tidak pernah khawatir dan selalu menjadi kebanggaan. Kamu juga tidak pernah lupa untuk terus mengapresiasi kerja kerasku. Padahal justru kamu yang sudah sa...

Hari Kesebelas: untuk si Pemilik Senyum paling Indah di Semesta ini

Gambar
Dia.. si pemilik senyum terindah di semesta ini. Berlebihan? Tentu tidak. Senyumnya benar-benar indah dan memikat. Entah sudah berapa kali aku jatuh cinta dengan senyum indahnya. Kalau mitologi mendeskripsikan malaikat sebagai hal yang indah, senyumnya bisa jadi salah satu rupa malaikat yang digambarkan. Aiiih. Aku bahkan mengetik ini sambil tersenyum sendiri. Teruntuk si Pemilik Senyum paling indah di semesta ini. Terima kasih sudah bertahan. Hari ini, sekali lagi, kamu memberikan energi dan semangat ke dalam hidupku yang masih abu-abu. Ceritamu layaknya sebuah cahaya, memberikan sedikit kejelasan kalau abu-abu ini hanya sementara. Akan seperti apakah warna hidupku ketika cahayanya sudah maksimal? Entah sudah berapa kali kamu mampu memberikan inspirasi yang tak pernah diduga-duga. Padahal ceritamu mirip seperti orang kebanyakan. Kamu juga selalu bilang, "Jangan pernah berhenti bekerja keras." Tipikal tempat asalmu sekali. Tapi yang pasti, semua kerja keras akan membuahkan ha...

Hari Keempat: Drama

Gambar
The Glory. Aku yakin banyak orang kenal dengan drama yang sedang trending satu di netflix itu. Bercerita soal balas dendam dari seorang korban bully kepada para pembullynya. Awalnya jalan cerita terlihat sederhana, tapi makin kesini jadi semakin kompleks. Meskipun begitu, drama ini sangat asik dinikmati karena durasi dan episode yang pendek. Sayangnya, 22 menit di episode pertamanya sukses membuatku menskip banyak adegan karena ada trauma yang sampai sekarang menggerogoti diri. Sepertinya cukup trigerring untuk korban bully di dunia nyata haha. Entahlah. Mungkin aku yang terlalu berlebihan juga, aku merasa seperti terbully tapi orang-orang disekitarku tidak merasa demikian. Padahal kan yang terluka aku? Not that physically sih, tapi sakit hatinya masih terasa sampai sekarang. Aku rasa mereka berhasil merusakku secara mental meski tidak separah itu. Tapi cukup mengusik di saat-saat tertentu saja. Padahal mereka baik-baik saja sampai sekarang. Sukses. Tanpa hambatan. Tuhan terlalu baik. ...

Hari Ketiga: Surat yang Jauh

Gambar
Cerita hari ketiga ini akan kupersembahkan untuk dua manusia yang berhasil menyelamatkan hidupku dua tahun belakangan. Teruntuk laki-laki pertama dan kedua yang jauh di sana. Hi. Terima kasih untuk segalanya. Semoga kalimat pendek berisi empat kata itu mampu mewakili semua perasaan dan rasa syukur karena Tuhan mempertemukan kita melalui layar kaca. Kata-kata indah tentu sudah sering kalian dengar dan baca. Sepertinya, surat tanpa tujuan ini tidak berguna kalau harus memberikan kata-kata indah yang sama. Toh, tidak terbaca juga hahaha. Kalian tahu, semenjak aku menyukai kalian terlalu banyak emosi yang campur aduk. Dua tahun belakangan dunia seperti roller coaster buatku. Entah bagaimana aku bisa melaluinya hingga hari ini. Kala itu hariku buruk. Buruk sekali. Aku nyaris tidak bisa bergaul dengan siapapun di kelas magisterku. Aku lelah dan frustasi untuk bisa bertahan. Sampai tiba-tiba konten kalian yang berjudul NCT World 2.0 mengubah segalanya. Rasa frustasi dan ketakutanku selama kul...

Hari Kedua

Gambar
 Afirmasi positif? Sepertinya aku terlalu banyak berafirmasi positif sampai bingung harus bagaimana lagi. Saking positifnya, semua akan berakhir dengan "Yaudah lah yaa" tanpa ada perlawanan. Kacau. Bagus sih. Terkadang aku jadi lebih bisa menerima sesuatu dengan lapang dada, tapi terkadang juga jadi bumerang karena aku jadi pemalas. Lebih ke arah, "Yaudah jalannya begini" lalu mengabaikan beberapa langkah lain yang seharusnya bisa jadi jalan untuk mencapai hal tersebut. Jadi, sebenarnya afirmasi positif itu baik atau tidak? Masih hari kedua di 2023 dan aku masih overthinking dengan banyak hal. Berusaha mengenyahkan dengan afirmasi positif tadi tapi sepertinya aku terlalu lelah dan malah skeptis sendiri. Dasar aku. Anyway, saatnya membicarakan poin utama hari kedua. Isi kepala ini sempat rusuh tatkala orang-orang kembali menanyakanku perihal masa depan. Abu-abu. Kan sudah kubilang abu-abu jadi tentu aku sangat sensitif dengan pertanyaan-pertanyaan jenis itu. Tapi mer...

Tahun Baru

Gambar
Entah sudah sejak kapan aku merasa pergantian tahun bukanlah sesuatu yang spesial. Ketika malam habis dan pagi menyapa, harinya tetap 24 jam, rutinitas yang masih sama saja, maka semua terasa sangat sangat biasa. Ketika gegap gempita dan riuh kembang api menjadi pertanda harapan baru sebagian orang, doa baru bagi yang masih berjuang, aku malah merasa semua terlalu fana. Doa dan harapan dari jiwa-jiwa penuh optimisme itu suci, indah, dan menjadi lampu awal bagi mereka untuk memperjuangkan hidupnya. Sedangkan aku yang sudah terlanjur memiliki pola hidup konsisten hingga 27 tahun lamanya, justru merasa harapan dan doa sudah tidak mempan lagi. Memperjuangkan hidup yaa dengan dijalani, dinikmati manis pahitnya, bahkan kalau bisa tanpa berekspektasi. Mungkin ini efek dari aku yang awal 20an kemarin terlalu diliputi mimpi besar dan idealisme sekokoh batu karang, namun pada akhirnya tertampar realita. Pada akhirnya menjadikan pemikiran ini antipati kalau soal harapan tinggi. Atau memang karena...

Dua Ribu Dua Puluh Tiga

 Happy New Year!!!  Selamat datang kembali di dunia biru. Mari mulai kembali menulis dengan target satu hari satu. Semoga mampu.