Langsung ke konten utama

Hari Kedua Ratus Sembilan Belas: Sisa Tiga

Empat Agustus 2023, tak usah ditanya bagaimana kabarku, yang jelas buruk. Bukan tanpa alasan kekecewaan besar ini hadir, bisa-bisanya yang aku perjuangkan sekian lama malah berakhir dengan sebuah kalimat, "Terindikasi Curang." Bagaimana bisa? Mengingat ini adalah akal-akalan pejabat negara, aku tidak bisa berbuat banyak. Dimintai kejelasan pun pihak informasi hanya bisa menjawab ala kadarnya. Fuck

Selamat datang kembali di kegagalan lainnya.
Rasanya lelah, frustasi, dan depresi. Harus kemana dan bagaimana lagi? Harus menangis seperti apa lagi? Sepanjang tahun ini aku sudah menangis, apa masih kurang? Berbagai hal yang mengusik terus berkelebat di kepalaku dan rasanya mau pecah. Karir, orangtua, cinta, umur, dan segala hal duniawi tidak bisa kugapai. Buntu. Aku benci hidupku.

Satu.
Tiba-tiba yang kukesali kemarin mengirimkan potongan ucapan Jaemin sembari berkata, "Semangat. Nanti aku bantu share loker lagi. Masih ada yang lain." Kali ini rasanya berbeda, bukan rasa sakit seperti kemarin. Rasanya seperti masih ada harapan, dia masih berusaha menarikku dari kekalutan ini. Maaf untuk yang kemarin dan terima kasih untuk hari ini.

Dua.
Dia yang kehidupannya sempat aku liputi rasa iri lantaran kegagalanku yang terus menerus datang dengan ajakan manis, "Ayo kita jalan-jalan!" Tanpa ragu hari itu aku menghabiskan waktu bersamanya sampai malam. Beberapa kali dia bahkan berucap, "Aku seneng kalo kamu bisa happy." Terima kasih banyak ya.

Tiga.
Dia yang sudah sering mengajakku kabur dari dunia untuk melupakan masalah menjadi orang terakhir yang menutup luka. "Kita di posisi yang sama." Tidak secara harfiah sama, namun jalan cerita kita sedikit banyak beriringan, apalagi perihal cinta dan hubungan sosial dengan manusia. Hari itu untuk pertama kalinya aku menangis frustasi di depannya. Terima kasih banyak sudah mau menjadi satu-satunya pendengar yang aku butuhkan.

Sisa tiga dari sekian banyak manusia yang sempat berlalu lalang di dalam hidupku. Orang-orang yang kurasa bisa kusandar ketika aku butuh sudah hilang. Mereka bukan orang yang sejak dulu ada, tapi berusaha ada ketika aku tanpa sadar sedang terdiam di dalam lubang yang gelap. Mereka yang suka tiba-tiba datang, entah dengan sengaja atau tidak, waktunya selalu tepat. Maaf jika kemarin aku menjadi manusia egois yang menyalahkan keadaan dan kalian. Sejujurnya tanpa kalian aku tidak akan bisa bertagan sampai hari ini. Terima kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengejar Mas-Mas : 31-10-2010

Holla!!!!!!! Masi dengan saya Dina dan dengan kisah-kisah yg penuh sensasi (masa?)..... Nah, hari ini aku bener-bener gak nyangka. Pokoknya gak nyangka deh!!! Hari yang sama sekali gak aku rencanakan. Surprise banget! Today is funtastic day for my live!!!!! :) Dari seminggu yang lalu, anak-anak tonti kelas 8 rajiiiinnnn banget latian tonti. Aku kirain cuma forum biasa. Gak taunya selidik punya selidik bakal ada PPI pada hari minggu 31-10-2010. Aku sih cuma biasa wae dengernya. Aku juga cuma ngerespon sukses lah buat tontinya. Hingga saat berakhirnya placement test pada hari kamis. Ada sesuatu yang baru aku sadari setelahnya. Besok minggu kan PPI. PPI tu selain smp juga ada sma, Si Mas-Mas kan anak tonti, berarti.................. "BESOK DIA IKUT PPI!!!!!" Langsung aja abis itu aku bilang ke Dea, Uterr, ma Fazza. Hari Jum'at, aku ngajak temen yang mau nemenin aku liat PPI. Akhirnya Fazza mau. Tapi gak lama dia berubah pikiran. Dia inget kalo sabtu-minggu dia ke Kudus. Kece...

Hari Kedua Ratus Dua Puluh: Cinta?

 Sudah berapa ratus purnama aku tidak berkeluh kesah soal cinta di sini? Hahaha. Mengingat umur yang sudah tidak lagi muda membuatku canggung jika bicara soal cinta. Yah.. I am at late 20s and if I still speak about shallow love, people will laugh at me. It is not the right time aja rasanya. But around a month or less, may be, suddenly I think about him again. Who is him? He is not somebody that I have ever talked about him earlier. He definitely does not ever appear in my blog but I always talk about him in twitter. So some of you (if you still read my story here), may be will know who he is. Someone who I called as "Anak Pak Rete". Mungkin karena dia laki-laki terakhir yang berhasil menyentuh sisi lain hatiku, ketika aku sudah berusaha mati-matian untuk mengabaikan soal perasaan ke lawan jenis. Tapi perilakunya membuat pertahananku seketika runtuh dan hancur. Di saat yang sama, dia tiba-tiba menjauh. Entah karena aku yang sempat salah merespon chatnya, atau memang dia sadar...