The Biggest "what if"
Pada awalnya, judul ini ingin aku gunakan untuk menulis banyak narasi positif tentang kehidupan romansaku bersama seseorang yang namanya kusematkan dalam doa beberapa bulan belakangan. Harapannya sih agar bisa jadi manifestasi positif. Tapi aneh juga karena manifestasi ini berisi "bagaimana jika" yang seharusnya terjadi di masa lalu. Agaknya kontradiktif sekali yaa dengan teori yang bertebaran di media sosial. Sayangnya, semuanya hanyalah rencanaku semata. Aku kira jika terus-menerus memikirkan "bagaimana jika" untuk urusan-urusan di masa lalu akan membawa sebuah kelegaan tersendiri. Seperti memberi makan hati dengan fantasi. Ternyata sikap ini malah menuntunku ke diagnosa mixed anxiety and depressive disorder (kata halodoc dan dokter jaga UGD di JIH). Tapi, setelah didiagnosa hingga 2x bolak-balik UGD, kumat di Pakuwon Mall, dan sampai dua minggu selalu sesak ketika di keramaian, tidak membuatku taubat untuk menghilangkan topik overthinking terkait "bagaimana ...