Postingan

Persepsi

Sejujurnya aku tidak ingin menulis sesuatu yang temanya galau-galau lagi. Toh, kegalauan ini hanya semakin menjebakku dalam pikiran-pikiran yang menyakitkan. Jadi, mari kita cari topik lain yang tidak membuatmu berkutat di masa lalu. Let me think.... Tiba-tiba aku teringat dengan ucapanku di halaman Candi Prambanan. Sebuah kalimat yang sepertinya terdengar sombong dan sangat menantang, kurang lebih begini, "Aku yaa.. kalau kepepet banget, mentok mampus keadaannya, dan bikin aku ada di situasi disukai atau dilamar laki-laki yang pernah berkeluarga, kayaknya mikir-mikir banget sih. Meskipun itu udah di ujung banget ya!! Soalnya aku mikirnya gini, selama ini aku usaha untuk tetap menjadi wanita yang utuh, gak neko-neko, suka sama laki-laki juga jarang banget, terus tiba-tiba ada orang dateng dengan segudang masa lalunya, entah udah selesai, entah otw selesai. Kayak... kamu udah di fase pernah bersama orang lain dan aku pure single, gak adil banget gak sih?" Ucapku dengan penuh k...

The Biggest "what if"

Pada awalnya, judul ini ingin aku gunakan untuk menulis banyak narasi positif tentang kehidupan romansaku bersama seseorang yang namanya kusematkan dalam doa beberapa bulan belakangan. Harapannya sih agar bisa jadi manifestasi positif. Tapi aneh juga karena manifestasi ini berisi "bagaimana jika" yang seharusnya terjadi di masa lalu. Agaknya kontradiktif sekali yaa dengan teori yang bertebaran di media sosial. Sayangnya, semuanya hanyalah rencanaku semata. Aku kira jika terus-menerus memikirkan "bagaimana jika" untuk urusan-urusan di masa lalu akan membawa sebuah kelegaan tersendiri. Seperti memberi makan hati dengan fantasi. Ternyata sikap ini malah menuntunku ke diagnosa mixed anxiety and depressive disorder (kata halodoc dan dokter jaga UGD di JIH). Tapi, setelah didiagnosa hingga 2x bolak-balik UGD, kumat di Pakuwon Mall, dan sampai dua minggu selalu sesak ketika di keramaian, tidak membuatku taubat untuk menghilangkan topik overthinking terkait "bagaimana ...

Perayaan Melepaskan

 Untuk kamu yang pernah singgah sejenak, Hai... apa kabar? Lama yaa tidak berjumpa. Sebenarnya aku sedikit bingung harus mulai dari mana, tapi akan aku coba uraikan semuanya pelan-pelan. Semoga setelah ini, aku bisa sedikit melangkah maju dan melanjutkan hidup. Banyak hal yang mau aku sampaikan lewat media ini, entah kapan akan sampai atau malah akan berakhir di  trash bin  karena aku terlalu malu. Kalau diingat-ingat, pertama kali kamu hadir di depanku saat rapat besar, kamu muncul dengan map berisi acara untuk tahun itu, aku terkesima sesaat, "Siapa nih?" Saat itu sebenarnya aku sedang fokus kuliah dan menghindari adanya drama romansa di kepala. Tapi kamu hadir dan sedikit mengetuk pintu yang aku tutup. Di hari pertama itu, kamu tiba-tiba mengajakku bicara, padahal kebanyakan orang asing sungkan dengan raut wajahku yang lumayan lugas. Pertemuan-pertemuan selanjutnya kamu termasuk salah satu orang yang lumayan sering mengajakku ngobrol dan bercanda. Celetukan-celetukan k...

Salahmu Sendiri

Rasanya seperti sudah terlalu lama berlari. Entah ini bisa disebut dengan berlari atau hanya jalan santai. But I tried. I tried a lot of things. But may be not that many juga sih. Banyak hal yang ujung-ujungnya diisi dengan sebuah ucapan, "salahmu sendiri sih". Mungkin aku tidak berlari sekuat yang lain, mungkin aku tidak berjuang sekeras yang lain, dan mungkin memang usahaku tidak pernah sebanding dengan yang lain. Jadi mengapa harus terus dibandingkan? Justru itu. Justru karena aku paham dengan konsep bahwa kesuksesan & kebahagiaan setiap manusia pasti selalu diliputi pengorbanan yang besar, membuatku terus menerus menekan diri sendiri. Merasa semua salah letaknya di diri ini. Tidak ada yang bisa dimaki kecuali diri sendiri. Dan perlahan semuanya terasa sesak. Untungnya masih ada beberapa tangan yang bisa diraih meski hanya sebentar. Lalu aku bisa kembali tersenyum barang sejenak dan melanjutkan hidup seperti biasanya. Dari semua perjalanan yang kualami, insecure menjad...

Mari Dilanjutkan

Long time no see~  Tulisan di blog ini memang sempat terhenti di hari ke dua ratus sekian. Kebiasaan!! Tidak pernah menyelesaikan hal yang sudah dimulai. Bisa dibilang memang aku tipikal yang tidak konsisten sih. Yasudah. Semoga lekas membaik haha. Anyway, entah bagaimana harus mengawali tulisan kali ini. Sedikit canggung dan kaku. Ternyata kebiasaan membaca sangat mempengaruhi cara bercerita ya :((. Akibat sudah jarang membaca, aku jadi agak kikuk ketika berusaha mengungkapkan perasaan lewat tulisan.  Mari kita mulai dengan alasan "Kenapa nulis lagi?" dengan konteks menulis di blog sepi pengunjung ini. Kenapa ya? Sepertinya karena mimpi beberapa waktu lalu dan sedikit gangguan yang tiba-tiba masuk ke alam bawah sadar (semoga paham). Mimpi yang tiba-tiba membuatku terhenyak itu akhirnya mengantar jemari ini untuk menggali masa lalu dengan lebih dalam. Membaca setiap huruf cerita masa lalu yang banyak membuatku geli sendiri. Percayalah aku pernah sangat-sangat berlebihan pada ...

Hari Kedua Ratus Dua Puluh Delapan: Hi!

Jika mungkin memang tidak ada jalan dari Tuhan untuk kita bertemu, setidaknya aku sudah sempat menyampaikan hal-hal yang ingin kuucapkan kepada dia. Meski hanya melalui tulisan yang tidak jelas juga siapa saja yang membaca. Hi! Lama gak ketemu ya. Gak lama banget sih, taun lalu sempet sekilas bersapa di event dekat rumah. Masih suka bercanda kayak dulu gak? Atau malah udah ada target lain buat diisengin? Jangan sering-sering, kasian kalo targetnya jatuh suka. Kenapa waktu itu tiba-tiba ilang? Aku ada salah kah? Maaf ya kalo pas itu ada salah kata atau jawaban yang tidak menyenangkan. Tapi kalo bukan karena itu... ya maaf aja. Mungkin ada salah yang lain hehe. Apa kabar? Kelihatannya baik sih, bahkan sangat baik. Seneng banget liat kamu kalo update story. Yah lumayan lah bisa tau kamu lagi di mana dan lagi ngapain. Sounds like stalker ya? hahaha. Besok-besok gak aku ulangin deh. Gimana ibu kota? Better than Jogja? Pengen deh denger cerita kamu selama di sana ngapain aja. Adaptasinya gim...

Hari Kedua Ratus Dua Puluh Tujuh: Aku Iri

Apakah menjadi seseorang itu selalu berakhir dengan memiliki pekerjaan tetap? Memiliki keluarga lengkap? Berkecukupan? Memiliki prestasi gemilang? Apakah semua pengakuan manusia di dunia itu adalah sebuah standar dalam menjalani kehidupan? Harta, tahta, pengakuan manusia. Definisi sedang diuji habis-habisan oleh Tuhan. Isi kepalaku sebenarnya sederhana, hanya berputar di hal-hal duniawi. Lalu berakhir dengan menyalahkan diri sendiri sebagai penenang sesaat. Karena pada dasarnya memang tidak ada yang bisa disalahkan juga. Pelampiasan dahaga dari emosi yang tak kunjung usai. Anggap saja begitu. Sebenarnya membuka akun utama di IG itu seperti bunuh diri secara perlahan. Bagaimana tidak? Semua yang terpampang adalah pencapaian manusia di dunia. Keadaan terbaik mereka selama menjalani hidup. Tanpa tahu bagaimana sulitnya mereka mencapai kebahagiaan tersebut. Lagi-lagi aku tidak bisa memvalidasi kekesalanku karena selalu terpaku dengan, "Setiap manusia memiliki medan perangnya sendiri....