Persepsi
Sejujurnya aku tidak ingin menulis sesuatu yang temanya galau-galau lagi. Toh, kegalauan ini hanya semakin menjebakku dalam pikiran-pikiran yang menyakitkan. Jadi, mari kita cari topik lain yang tidak membuatmu berkutat di masa lalu. Let me think....
Tiba-tiba aku teringat dengan ucapanku di halaman Candi Prambanan. Sebuah kalimat yang sepertinya terdengar sombong dan sangat menantang, kurang lebih begini,
"Aku yaa.. kalau kepepet banget, mentok mampus keadaannya, dan bikin aku ada di situasi disukai atau dilamar laki-laki yang pernah berkeluarga, kayaknya mikir-mikir banget sih. Meskipun itu udah di ujung banget ya!! Soalnya aku mikirnya gini, selama ini aku usaha untuk tetap menjadi wanita yang utuh, gak neko-neko, suka sama laki-laki juga jarang banget, terus tiba-tiba ada orang dateng dengan segudang masa lalunya, entah udah selesai, entah otw selesai. Kayak... kamu udah di fase pernah bersama orang lain dan aku pure single, gak adil banget gak sih?" Ucapku dengan penuh kepercayaan diri, mentok, mampus, padahal value sedalam palung mariana wkwkwk.
Setelah aku pikir-pikir lagi, ucapan itu bener-bener picik dan dangkal. Bagaimana bisa aku menilai seseorang dari sebuah masa lalu yang menyakitkan? Siapa manusia yang tidak pernah merasa tersakiti di dunia ini? Tidak ada kan. Makanya penilaian yang aku utarakan itu benar-benar di luar nalar. Entah apa yang merasukiku sampai-sampai bisa keluar pernyataan semengerikan itu. Yaa sebenernya ada konteksnya sih kenapa sampai segitunya, konteks yang tidak bisa aku ceritakan karena berkaitan dengan rahasia temanku. Definisi hati masih terluka karena ditinggal menikah mungkin yaa. Maaf.
Seiring berjalannya waktu, aku pun sadar bahwa peristiwa dalam hidup itu pasti ada hikmahnya. Permasalahan dalam satu aspek akan memberikan pembelajaran bagi salah satu value dalam hidupmu (Filosofi Teras). Shout out to Filosofi Teras yang membuatku benar-benar terus berefleksi setiap satu bab. Buku terbaik versiku. Oke, balik ke topik, jika aku memang harus berada di kondisi yang aku utarakan di halaman Candi Prambanan itu, mungkin saat ini aku akan menjawab dengan lebih diplomatis. Aku akan menanyakan seberapa besar lukanya, bagaimana dia menyelesaikan lukanya, apakah sudah sembuh atau belum, dan mengutarakan segala pertimbanganku agar dia juga bisa memikirkan sudut pandangku. Yaaah, berusaha untuk tidak judgemental gitu deh.
Sejatinya setiap pendewasaan dalam kehidupan itu jalannya bermacam-macam. Ada yang didewasakan oleh keluarga, karir, dan mostly percintaan. Jika semua aspek itu menjadi ujianmu, yaa berarti memang kamu sedang diproses untuk didewasakan secara utuh. Dilihat-lihat, sepertinya pendewasaan akan lebih mudah saat kamu belum memiliki banyak hal untuk dilindungi. Berarti level orang-orang yang didewasakan saat sudah memiliki sesuatu jauh lebih berat yaa. Ahh, aku jadi semakin menyesali pernyataanku itu.
At this moment, kalau memang benar-benar masa depanku demikian, eksekusinya tentu tidak semudah menulis keresahanku di blog ini. Sebagai manusia yang penuh pertimbangan, aku pasti sudah terdiam seribu bahasa tapi isi kepala berdiskusi ratusan ribu kata. Belum kebayang sih dan mending gak usah dibayangin juga lah yaa. Ini hanya sebuah keresahan yang sekelibat keinget aja. So, see you. Gnight.
Komentar
Posting Komentar