Perayaan Melepaskan
Untuk kamu yang pernah singgah sejenak,
Hai... apa kabar? Lama yaa tidak berjumpa.
Sebenarnya aku sedikit bingung harus mulai dari mana, tapi akan aku coba uraikan semuanya pelan-pelan. Semoga setelah ini, aku bisa sedikit melangkah maju dan melanjutkan hidup. Banyak hal yang mau aku sampaikan lewat media ini, entah kapan akan sampai atau malah akan berakhir di trash bin karena aku terlalu malu.
Kalau diingat-ingat, pertama kali kamu hadir di depanku saat rapat besar, kamu muncul dengan map berisi acara untuk tahun itu, aku terkesima sesaat, "Siapa nih?" Saat itu sebenarnya aku sedang fokus kuliah dan menghindari adanya drama romansa di kepala. Tapi kamu hadir dan sedikit mengetuk pintu yang aku tutup. Di hari pertama itu, kamu tiba-tiba mengajakku bicara, padahal kebanyakan orang asing sungkan dengan raut wajahku yang lumayan lugas. Pertemuan-pertemuan selanjutnya kamu termasuk salah satu orang yang lumayan sering mengajakku ngobrol dan bercanda. Celetukan-celetukan khas playboy juga sering keluar dari mulutmu. Sebenarnya aku lumayan kesal saat itu, bahkan sampai tak habis pikir.
Tidak banyak momen yang kuingat juga, karena kebanyakan kita hanya berkumpul setahun sekali. Ketika event selesai, semua akan kembali ke rutinitas masing-masing. Lalu berjumpa kembali di tahun selanjutnya. Jeda panjang itu pun tidak ada komunikasi intens diantara kita. Mentok-mentok kamu yang iseng ngereply story, itu pun jarang. Untuk beberapa waktu, aku merasa kamu memang ramah ke semua orang. Yaa memang karaktermu saja yang supel. Semakin lama pun candaanmu aku balas dengan candaan juga. Kita cukup sering tak mau mengalah, padahal jelas-jelas kamu lebih bocah.
Sampai ada satu, dua momen yang membuatku cukup salah tingkah. Entah kamu ingat atau tidak, ada kalanya kamu bicara cukup serius kepadaku, entah menyuruh pulang atau meminta sesuatu. Jujur aku cukup terkejut dan salah tingkah kalau nada seriusmu muncul. Rasanya seperti diberi sinyal positif tapi tetap tidak semeyakinkan itu. Semua tanda yang aku kira sinyal positif selalu berakhir dengan candaan yang kamu lontarkan, aku sangat bingung.
Kadang dalam kebingungan itu, kamu suka tiba-tiba muncul. Masih kuingat jelas ketika kamu tiba-tiba muncul di selasar FTP, dengan senyum dan tawa penuh kejahilan. Aku terkejut dan bahagia saat itu. Sayangnya, kamu datang saat aku mau rapat divisi, jadi tidak ada lanjutan selain kita berdua yang saling tertawa dari kejauhan. Ada lagi momen di mana aku sedang melamun di perpustakaan. Tiba-tiba memori tentangmu muncul dan tak lama kamu menelepon ingin numpang ngeprint. Entah beneran mau ngeprint atau iseng aja, aku juga tidak paham. Tapi momen-momen itu cukup melekat dan membuatku bahagia. Ketika aku ingin berharap kita bisa berkomunikasi lebih, tapi tiba-tiba kamu hilang, dan bodohnya aku tidak mencarimu.
Sejak terakhir kita DM-an di Instagram, hari di mana kamu tiba-tiba menghilang karena kalimatku (may be) yang membuatmu mundur, banyak hal yang terjadi di hidupku. Naik dan turun seperti roller coaster. Mungkin kamu juga sama, toh setiap manusia memiliki permasalahannya sendiri kan hehe. Selama itu pula, aku masih beberapa kali memantau story-mu. Kamu pindahan ke jakarta, aktif bekerja dan berkegiatan, menjalani hari-hari di perantauan. Kadang aku lihat juga kamu kembali ke kampung ini dan saat itu aku sangat berharap kita bisa bertemu dalam ketidaksengajaan yang aku damba-dambakan. Namun, nihil. Ada kalanya kamu lama di Jogja tapi aku harus ke Jakarta, kamu ke masjid, tapi aku sedang tidak ke masjid. Puncaknya adalah ketika aku sudah tidak mau berharap dengan ketidaksengajaan itu. Kamu malah selalu lewat di hadapanku. Pertama kali aku melihatmu lagi setelah beberapa tahun tidak bertemu cukup membuatku terdiam lama. Sayangnya hanya aku yang melihatmu.
Selama 5 tahun, aku masih yakin suatu saat kamu akan kembali. Entah karena ketidaksengajaan atau karena keberanian dari salah satu diantara kita. Who knows? Selama itu aku terus menjalani hari-hari dengan harapan kita akan bertemu dan memulai semuanya kembali dalam kondisi yang lebih dewasa. Sama-sama lebih bisa saling terbuka dan menyelesaikan apa yang sebelumnya tertunda. Selama kurang lebih 5 tahun lamanya aku meyakini itu semua.
Sampai-sampai aku lupa kalau hidupmu terus melangkah maju. Sedangkan aku malah seperti hamster yang berputar di roda putarnya, tertahan. Harapan yang terus bergaung di kepala, tanpa ada sedikit pun usaha membuatku terlalu berharap pada kejadian yang fana. Bodoh ya. Aku tahu. Memang aku terlalu pengecut untuk menjadi reaktif sebelum ada sinyal positif yang pasti.
Tahun-tahun selanjutnya, tidak banyak yang bisa aku harapkan. Perlahan aku coba melepaskan yang selama ini aku pertahankan. Dalam sebuah perjalanan religi ke Baitullah, kamu menjadi satu-satunya orang yang aku doakan di depan Kakbah. Hari itu aku terdiam, menatap Kakbah dengan penuh kepasrahan, "Ya Allah... jika memang dia bukan untukku, maka berikanlah dia kebahagiaan sebagaimana dia telah membuatku bahagia selama ini. Meskipun memorinya tidak banyak, tapi keberadaannya selama ini sudah mampu memberi goresan warna indah di dalam kanvas hidupku. Ya Allah... tolong sampaikan kepadanya kalau aku pernah menyukainya. Sampaikan bahwa aku pernah merindukannya, menunggunya, dan mengharapkannya. Namun, jika memang engkau tidak meridhoi perasaan yang berlarut ini, maka angkatlah dari hatiku. Kalau pun dia memiliki perasaan yang sama, angkatlah juga. Biarkan dia bahagia dengan hidup barunya. Terakhir, kabulkanlah semua doa-doa baiknya." Tanpa sadar air mataku menetes. Hari itu aku putuskan untuk merelakanmu perlahan.
Terima kasih sudah pernah singgah. Maaf jika perasaanku saja yang terlalu dalam. Aku harap kamu selalu bahagia. Semoga masa depanmu diberkahi Allah selalu. Selamat tinggal.
Komentar
Posting Komentar