The Biggest "what if"
Pada awalnya, judul ini ingin aku gunakan untuk menulis banyak narasi positif tentang kehidupan romansaku bersama seseorang yang namanya kusematkan dalam doa beberapa bulan belakangan. Harapannya sih agar bisa jadi manifestasi positif. Tapi aneh juga karena manifestasi ini berisi "bagaimana jika" yang seharusnya terjadi di masa lalu. Agaknya kontradiktif sekali yaa dengan teori yang bertebaran di media sosial. Sayangnya, semuanya hanyalah rencanaku semata.
Aku kira jika terus-menerus memikirkan "bagaimana jika" untuk urusan-urusan di masa lalu akan membawa sebuah kelegaan tersendiri. Seperti memberi makan hati dengan fantasi. Ternyata sikap ini malah menuntunku ke diagnosa mixed anxiety and depressive disorder (kata halodoc dan dokter jaga UGD di JIH). Tapi, setelah didiagnosa hingga 2x bolak-balik UGD, kumat di Pakuwon Mall, dan sampai dua minggu selalu sesak ketika di keramaian, tidak membuatku taubat untuk menghilangkan topik overthinking terkait "bagaimana jika". Lalu apa yang selanjutnya terjadi?
Pertolongan Tuhan yang paling maksimal terjadi ketika dua objek "my biggest what if" sama-sama sudah berjalan menjauh di jalurnya masing-masing. Keduanya sama-sama menemukan kebahagiannya dan sudah memulai fase baru di kehidupannya. Sebuah tamparan keras untuk aku yang masih berharap kalau "bagaimana jika" di kepalaku bisa terjadi di masa depan. Saat itu rasanya dunia runtuh. Dua bulan berturut-turut (Mei-Juni), kedua objek yang namanya aku sematkan dalam doa langsung merubah status kehidupannya. Keyakinanku setelah setengah tahun marah dengan Tuhan seperti dicabut paksa lagi. Namun kali ini lebih.... legowo? Mungkin.
Meskipun harus marah dan menangis sampai berhari-hari, kewarasanku bahwa Tuhan pasti punya rencana yang lebih baik masih ada dan lebih terasa nyata. Entah mengapa, sikap pesimis yang hampir dua tahun belakangan menggerogotiku perlahan terlepas. Aku lebih bisa menerima semuanya setelah meluapkan emosi puncaknya. Bahkan setelah sedikit mereda, aku lebih bisa berpikir secara logis bahwa dengan kejadian ini, aku harus lebih dekat denga Tuhan bagaimana pun caranya.
Yah, tapi namanya juga manusia, memori dari dua objek itu masih sering berputar di kepala. Tahu lagu Rizki Febian feat Mikha Tambayong? yang liriknya, "Kita telah lama bersama, semua titik di kota ini adalah KITA." Tak bisa dipungkiri setiap melakukan perjalanan di kota ini, memori tentang mereka pasti sedikit banyak lewat. Ketika itu terjadi, aku berusaha keras menepisnya. Tidaaak!!! Ini tidak baik!!! Aku tidak mau jadi orang jahat!!!
Efek jangka panjangnya adalah saat malam tiba, topik overthinking-ku akan berkutat kembali di narasi "bagaimana jika". Ahh mengesalkan!!! Pada kenyataannya, topik "bagaimana jika" ini hanyalah sebuah ilusi, perbaikan hal-hal yang terjadi di masa lalu, which is SUDAH BERLALU dan TIDAK BISA DIRUBAH. Jadi, untuk apa aku menghabiskan energiku di masa lalu? Bahkan buku Filosofi Teras yang sedang kubaca saja juga menerangkan bahwa "bagaimana jika" adalah sebuah kebodohan. Untuk apa membuang waktu dan energimu di hal-hal yang SUDAH TIDAK BISA kamu kendalikan. In fact, I read the book for a long time (its been 6 months) because every pages make me reflecting myself. The stupidity of myself to be exact. Shshshshsh.
Sampai detik ini aku masih berusaha memproses semua luka, sedih, dan kekesalan akan memori yang ada. Aku juga rajin meminta pertolongan Tuhan agar segera diberi keikhlasan untuk melepas semua kenangan yang ada. Ibarat wadah yang berisi air, meski kamu buang isi airnya, masih ada sisa-sisa tetesan yang terjebak di dalamnya. Those are the memories. Perlu dibiarkan di ruang terbuka agar kelembapan lingkungan bisa menguapkan air di dalamnya dan wadah itu bisa kering seutuhnya. It definitely takes time. Jadi, memang sedang butuh waktu untuk sembuh saja. Semoga lekas menghilang.
Komentar
Posting Komentar