Pengalihan Kesedihan

Ada sebuah cuplikan dari Filosofi Teras yang bagus banget buatku. Ketika Seneca diasingkan, dia ngasih surat buat ibunya. Di dalam surat itu ada kalimat yang bikin aku takjub banget, “Lebih baik menaklukan kesedihan daripada menipu diri sendiri.” Wow. Mana lagi ngalamin banget.

Kadang untuk mengalihkan kesedihan kita melakukan banyak aktivitas yang sebenarnya hanya menipu diri sendiri aja, tidak hilang, malah jadi terbayang terus menerus. Memang sih, sekat antara menipu diri sendiri dan menaklukan kesedihan itu bisa sangat tipis, bahkan aku sendiri masih meraba-raba di mana letak bedanya. Jadi, aku coba jalanin dulu yang aku bisa, terlepas itu hanyalah pengalihan semata. 

Sampai ke satu titik, aku merasa bahwa kesedihan yang terus berlanjut hanya akan membuatku lelah. Nah, mulai nyambung sama quote tiktok tuh yang pada bilang, "Jalanin aja sampe kamu capek sendiri. Nanti juga berlalu." And thats true. Terkadang memang ada beberapa hal yang harus kita rasakan sampai tuntas, sampai capek, dan barulah diri ini sadar kalau berlarut-larut itu hanya akan membuang-buang energimu. Salah satu contohnya, patah hati. Alah.. sudah berapa ratus kali aku patah hati dan blog ini benar-benar menjadi saksi kisah romansaku yang suram. Lucunya.

Kembali ke konteks kalimat Seneca, aku akan coba membedah lebih jauh bagaimana sebuah pengalihan kesedihan bisa berakhir dengan menaklukannya. Pada awalnya, emosiku terasa sangat impulsif, rasanya kacau dan berantakan. Bahkan untuk seseorang yang sangat tertata, tahap awal dari sebuah penerimaan kesedihan yang mengejutkan benar-benar membuatku kesal. Isi kepalaku bertabrakan dengan emosi yang muncul dari hati, sedetik mau pergi, sedetik mau menangis, sedetik tertawa saat scroll medsos, sedetik melamun penuh ratap. Benar-benar chaos dan gila. Sampai setelah beberapa waktu berlalu, aku merasa harus bergerak maju dengan cepat. Tanpa ampun, aku harus segera melangkah dan melepaskan kesedihan ini. Proses pengambilan keputusan untuk memotong kesedihan inilah yang cenderung membuat kita memilih banyak aktivitas selama berhari-hari agar isi kepala tidak kosong dan kembali bersedih. Sebuah PENGALIHAN KESEDIHAN.

Lalu apa yang terjadi? Tentu saja kesedihan itu bukannya hilang, malah suka muncul tiba-tiba dan membuat emosimu semakin berlarut. Saat itupun, di aktivitasku yang lumayan banyak, setiap ada celah memori yang terlewat, aku akan kembali bersedih. Teringat semua kenangan yang ada di setiap sudut kota ini. Kembali memikirkan the biggest what if yang mungkin bisa aku lakukan. Padahal semuanya sudah terlambat, sudah bvenar-benar mentok, bahkan Tuhan sudah tutup pintu itu agar aku segera beralih ke jalan yang lain. Ujung-ijungnya aku merasa lelah dua sampai tiga kali lipat daripada saat pertama kali menerima kesedihan tersebut. Di saat-saat seperti ini, aku memutuskan untuk berdiam sejenak. Tidak melakukan apapun, hanya hidup, bernapas, dan menikmati setiap inch kesedihan yang terjadi.

Ketika proses penenangan diri itu berjalan, emosi yang muncul jadi lebih stabil, isi kepala juga jadi lebih dingin, sehingga membuatku lebih bisa realistis dan melogika semua kejadian yang dialami. Perlahan aku mencari tujuan yang sebenernya aku butuhkan, alasan-alasan yang masuk akal, dan proses penerimaan yang lebih baik dari sebelumnya. Pada akhirnya yang kutemukan justru bagaimana aku harus mencintai diriku lebih dalam dan menerima seluruh situasi ini dengan konsep bahwa Tuhan memang menempatkanmu di posisi ini karena Dia punya rencana. Entah rasanya akan indah atau tidak, yang perlu aku pahami adalah kembali bertekuk lutut di hadapan Tuhan adalah sebuah alasan kuat untuk bertahan. 

At the end (this is the real end hehe), MENAKLUKAN KESEDIHAN itu muncul bukan dengan berlari menjauh dari kesedihan itu apalagi mengabaikannya, tapi dengan diam sejenak, menikmati kesedihan yang terjadi sebelum benar-benar melepaskannya pergi. Pada dasarnya menjadi manusia seutuhnya kan memang perlu menangkap semua emosi yang terjadi dalam hidup ini. Menikmati kesedihan menjadi salah satu prosesnya. Bisa berakhir baik atau tidak, itu murni keputusan diri kita sendiri. Aaah, aku jadi teringat lagu Eaj yang berjudul Burn, tentang bagaimana Tuhan membakarmu karena ulahmu sendiri. Next time kita akan bahas lebih lanjut. See ya. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perayaan Melepaskan

Mengejar Mas-Mas : Perjuangan Masih Berlanjut

Hari Kedua Ratus Sembilan Belas: Sisa Tiga